Novel Sejarah
KAJIAN
KRITIS UNSUR DAN KAIDAH KEBAHASAAN NOVEL SEJARAH “TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK”
MAKALAH
Disusun
sebagai pertanggungjawaban dari tugas Bahasa Indonesia semester I
Oleh :
1.
Amelia
Din R. H (XII MIPA 2/18791)
2.
Novita
Apriliani (XII MIPA 2/18810)
3.
Rera
Fii Rosanti (XII MIPA 2/19103)
4.
Wahyu
Setiyono (XII MIPA 2/18818)
DINAS
PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH
SMA
NEGERI 1 PURWOREJO
2017
ABSTRAK
Makalah ini berjudul
“Kajian Kritis Unsur dan Kaidah Kebahasaan Suatu Novel Sejarah”. Tujuan dari
makalah ini untuk mengetahui unsur-unsur yang terkandung dalam novel sejarah
dan mengetahui kaidah kebahasaan yang digunakan dalam novel sejarah. Novel
sejarah yang digunakan sebagai sumber data yaitu novel Tenggelamnya Kapal Van
Der Wijck karya HAMKA [Haji Abdul Malik Karim Amrullah] yang diterbitkan oleh
Bulan Bintang pada Juli 2002.
Berdasarkan pembahasan
dalam novel sejarah ini diketahui bahwa,
novel sejarah ialah sebuah novel yang meletakkan ceritanya pada masa lampau dan
bertujuan untuk menghidupkan keadaan-keadaan yang wujud pada masa lepas. Banyak
novel sejarah memasukkan watak-watak bersejarah Dalam sebuah novel jenis apapun
pasti mengandung unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik terdiri
atas unsur intrinsik lahiriah dan batiniah. Sedangkan unsur ekstrinsik yaitu
mengenai latar belakang penulis. Unsur intrinsik lahiriah terdiri dari, tokoh
dan penokohan, alur atau plot, yang digunakan yaitu alur campuran. Sudut
pandang, menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tau. Latar/setting
terdiri dari latar tempat, waktu dan suasana. Gaya Bahasa yang digunakan
sebagian besar menggunakan bahasa Melayu. Kemudian, unsur intrinsik batiniah
yaitu, tema dan amanat. Tema dari novel sejarah Tenggelamnya Kapal Van Der
Wijck yaitu percintaan. Lalu , amanat dari novel ini adalah kita harus setia
kepada seseorang yang kita cintai.
Unsur ekstrinsik yaitu
tentang latar belakang pengarang. HAMKA [Haji Abdul Malik Karim Amrullah]
adalah seorang pembelajar yang otodidak dalam bidang ilmu pengetahuan,
filsafat, sastra, sejarah, sosiologi,
politik dan agama. Kaidah kebahasaan menggunakan pronominal, frasa adverbial, konjungsi
temporal dan konjungsi intra kalimat.
Kata Kunci: Unsur,
Novel Sejarah, kaidah kebahasaan.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan
intelektual, sosial, dan emosional seseorang, serta merupakan penunjang kebarhasilan
dalam mempelajari segala bidang ilmu. Mempelajari bahasa juga bisa membantu
seseorang untuk dapat mengenali dirinya, budayanya, dan budaya orang lain,
mengungkapkan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang
menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta mengungkapkan kemampuan
analitis dan imaginatif yang ada pada dirinya.
Dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia
terdapat empat aspek keterampilan berbahasa dan sastra. Keempat keterampilan
tersebut sebagai berikut.
a. Keterampilan menulis
Menggunakan
berbagai wacana tulis untuk
mengungkapkan pikiran, perasaan dan
informasi dalam bentuk teks narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, teks
pidato, prosposal, surat dinas, surat dagang, rangkuman,ringkasan, notulen,
laporan, resensi, karya ilmiah, dan berbagai karya sastra berbentuk puisi,
cerpen, drama, kritik, dan esei.
b. Keterampilan
menyimak / mendengarkan
Memahami wacana lisan dalam kegiatan menyimak
berita, laporan, saran, pidato, wawancara, diskusi, seminar, dan pembacaan
karya sastra berbentuk puisi, cerita rakyat, drama, cerpen, dan novel.
c. Keterampilan
berbicara
Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan
pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan berkenalan, diskusi, bercerita,
presentasi hasil penelitian, serta mengomentari pembacaan puisi dan pementasan
drama.
d. Keterampilan membaca
Menggunakan berbagai jenis bacaan untuk memahami
wacana tulis teks nonsastra berbentuk grafik, tabel, artikel, tajuk rencana,
teks pidato, serta teks sastra berbentuk
puisi, hikayat, novel. biografi, puisi kontemporer, karya sastra
berbagai angkatan dan sastra melayu klasik.
Keterampilan
membaca merupakan satu di antara keterampilan yang harus dikembangkan dalam
pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Keterampilan membaca memiliki peranan
yang sangat penting bagi seseorang seperti dalam mengikuti proses pendidikan di
berbagai jenjang dan jenis pendidikan, dimana semakin hari semakin lebih sulit
dan membutuhkan wawasan luas. Maka, saat ini banyak sekolah menerapkan program
literasi bagi warga sekolahnya. Program literasi ini memberi sedikit waktu bagi
para siswa untuk dapat membaca buku non pelajaran. Namun tidak sekedar membaca
melainkan turut memahami isi yang terkandung dalam buku bacaan tersebut. Minimal
mengetahui unsur intrinsik dan ekstrinsik dari buku bacaan tersebut. Buku non
pelajaran yang dimaksud ialah buku bacaan seperti novel, biografi, dan
lain-lain. Novel pun tidak melulu novel yang mengisahkan tentang percintaan
remaja masa kini melainkan salah satunya ialah yang disebut dengan “novel
sejarah”. Novel sejarah adalah sebuah
cerita yang berlatar tokoh dan keadaan sejarah yang benar-benar ada. Karena ini
merupakan novel, biasanya penulis menginterpretasikan tokoh di dalam novel
menurut sudut pandangnya sendiri. Dengan adanya program literasi ini diharapkan
agar para siswa selaku generasi penerus bangsa memiliki pengetahuan luas serta
minat baca yang tinggi.
Namun pada era globalisasi seperti saat ini, banyak
siswa remaja enggan membaca sastra lama seperti novel sejarah dan sebagainya.
Mereka beranggapan buku bacaan tersebut sulit untuk dipahami makna maupun isi
yang terdapat dalam teks bacaan tersebut dikarenakan penggunaan kaidah
kebahasaan yang jauh berbeda dengan bahasa anak remaja kebanyakan saat ini
dengan apa yang mereka sebut “gaul”. Mereka lebih gemar membaca telepon
pintarnya masing-masing. Entah apa yang mereka baca,ada yang berdalih sedang
membaca novel namun melalui handphone dan sebagainya.
B.
Rumusan
Masalah
1) Apa
unsur-unsur yang terkandung dalam suatu novel sejarah?
2) Bagaimana
kaidah kebahasaan yang digunakan dalam novel sejarah “Tenggelamnya Kapal Van
Der Wijck”?
C.
Tujuan
1) Mengetahui
unsur-unsur yang terkandung dalam suatu novel sejarah.
2) Mengetahui
kaidah kebahasaan yang digunakan pada suatu novel sejarah.
D.
Manfaat
1. Memberi
informasi mengenai unsur novel sejarah.
2. Memberi
informasi mengenai kaidah kebahasaan novel sejarah.
3. Memperluas ranah pengetahuan pembaca.
4. Melatih
kemampuan analisis penulis.
5.
Membuka
kemampuan potensial dari penulis.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sinopsis
Novel
Sejak berumur 9 bulan, Zainuddin telah ditinggalkan
Daeng Habibah, ibunya. Kemudian menyusul ayahnya yang bernama Pendekar Sutan.
Zainuddin tinggal bersama bujangnya, Mak Base. Lantas diceritakan olehnya,
kira-kira 30 tahun yang lalu, ayahnya punya perkara dengan Datuk Mantari Labih
mamaknya, soal warisan. Dalam suatu pertengkaran Datuk Mantari terbunuh.
Pendekar Sutan kemudian dibuang ke Cilacap selama 15 tahun. Setelah selesai
masa hukumannya, ia dikirim ke Bugis untuk menumpas pemberontakan yang melawan
Belanda. Di sanalah Pendekar Sutan bertemu dengan Daeng Habibah. Untuk mencari
keluarga ayahnya, Zainuddin pergi ke desa Batipuh di Padang. Di Padang ia
tinggal di rumah saudara ayahnya, Made Jamilah.
Sebagai seorang pemuda yang datang
dari Makasar, ia merasa asing di Padang. Apalagi tanggapan saudara-saudaranya
demikian. Demikian pula ketika ia dapat berkenalan dengan Hayati karena
meminjamkan payungnya pada gadis itu kala hujan turun. Hubungan antara
Zainuddin dan Hayati makin hari tersiar ke seluruh desa dan Zainuddin tetap
dianggap orang asing bagi keluarga Hayati maupun orang-orang di Batipuh.Untuk
menjaga nama baik kedua orang muda dan keluarga mereka masing-masing, Zainuddin
diminta meninggalkan Batipuh oleh mamak Hayati. Dengan berat hati Zainuddin
meninggalkan Batipuh menuju Padang Panjang. Di tengah jalan Hayati menemuinya
dan mengatakan bahwa cintanya hanya untuk Zainuddin.
Suatu saat Zainuddin menerima kabar
bahwa Hayati akan pergi ke Padang Panjang untuk melihat pacuan kuda atas
undangan sahabat Hayati yang bemama Khadijah. Zainuddin hanya dapat bertemu
pandang di tempat itu karena bersama orang banyak ia terusir dari pagar tribun.
Pertemuan yang sekejap itu membuat Hayati mendapat ejekan dari Khadijah. Khadijah
sendiri sebenamya bermaksud menjodohkan Hayati dengan Aziz, kakak Khadijah
sendiri. Karena merasa cukup mempunyai kekayaan warisan dari orang tuanya
setelah Mak Base meninggal, Zainuddin mengirim surat lamaran pada Hayati.
Temyata surat Zainuddin bersamaan dengan lamaran Aziz. Setelah diminta untuk
memilih, Hayati memutuskan memilih Aziz sebagai calon suaminya. Zainuddin
kemudian sakit selama dua bulan karena Hayati menolaknya. Atas bantuan dan
nasehat Muluk, anak induk semangnya, Zainuddin dapat merubah pikirannya.
Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke Jakarta.
Dengan nama samaran “Z”, Zainuddin
kemudian berhasil menjadi pengarang yang amat disukai pembacanya. la mendirikan
perkumpulan tonil “Andalas”, dan kehidupannya telah berubah menjadi orang
terpandang karena pekerjaannya. Zainuddin melanjutkan usahanya di Surabaya
dengan mendirikan penerbitan buku-buku.Karena pekerjaan Aziz dipindahkan ke
Surabaya, Hayati pun mengikuti suaminya. Suatu hari, Hayati mendapat sebuah
undangan dari perkumpulan sandiwara yang dipimpin dan disutradarai oleh Tuan
Shabir atau “Z”. Karena ajakan Hayati, Aziz bersedia menonton pertunjukkan itu.
Di akhir pertunjukan baru mereka ketahui bahwa Tuan Shabir atau “Z” adalah
Zainuddin.Hubungan mereka tetap baik, juga hubungan Zainuddin dengan Aziz.
Perkembangan selanjutnya Aziz dipecat dari tempatnya bekerja karena hutang yang
menumpuk dan harus meninggalkan rumah sewanya karena sudah tiga bulan tidak
membayar, bahkan barang-barangnya disita untuk melunasi hutang. Selama Aziz di
Surabaya, ia telah menunjukkan sifat-sifatnya yang tidak baik. la sering keluar
malam bersama perempuan jalang, berjudi, mabuk-mabukan, serta tak lagi menaruh
cinta pada Hayati. Akibatnya, setelah mereka tidak berumah lagi, mereka
terpaksa menumpang di rumah Zainuddin.
Setelah sebulan tinggal serumah,
Aziz pergi ke Banyuwangi meninggalkan istrinya bersama Zainuddin. Sepeninggal
Aziz, Zainuddin pun jarang pulang, kecuali untuk tidur. Suatu ketika Muluk
memberitahu pada Hayati bahwa Zainuddin masih mencintainya. Di dalam kamar
kerja Zainuddin terdapat gambar Hayati sebagai bukti bahwa Zainuddin masih
mencintainya. Beberapa hari kemudian diperoleh kabar bahwa Aziz telah
menceraikan Hayati. Aziz meminta supaya Hayati hidup bersama Zainuddin. Dan
kemudian datang pula berita dari sebuah surat kabar bahwa Aziz telah bunuh diri
meminum obat tidur di sebuah hotel di Banyuwangi.
Hayati meminta kesediaan Zainuddin
untuk menerimanya sebagai apa saja, asalkan ia dapat bersama-sama serumah
dengan Zainuddin. Permintaan itu tidak diterima baik oleh Zainuddin, ia bahkan
amat marah dan tersinggung karena lamarannya dulu pemah ditolak Hayati, dan
sekarang Hayati ingin menjadi istrinya. la tidak dapat menerima perlakuan
Hayati. Dengan kapal Van Der Wijck, Hayati pulang atas biaya Zainuddin. Namun
Zainuddin kemudian berpikir lagi bahwa ia sebenarnya tidak dapat hidup bahagia
tanpa Hayati. Oleh sebab itulah setelah keberangkatan Hayati ia berniat
menyusul Hayati untuk dijadikan istrinya. Zainuddin kemudian menyusul naik
kereta api malam ke Jakarta.
Harapan Zainuddin temyata tak
tercapai. Kapal Van Der Wijck yang ditumpangi Hayati tenggelam di perairan
dekat Tuban. Hayati sempat mendapat pertolongan medis berkat jasa nelayan ikan
yang menemukannya di laut setelah kapal yang ia tumpangi tenggelam. Lantas
Zainuddin bersama Muluk menuju rumah sakit tempat Hayati dirawat. Keadaannya
tak sadarkan diri hingga akhirnya Hayati membuka mata sambil terbata-bata
mengucapkan bahwa ia sangat mencintai Zainudin dan meminta Zainudin untuk
membacakan dua kalimat syahadat di telinganya. Hingga akhirnya Hayati tak dapat
diselamatkan karena luka-luka di kepala dan di kakinya. Jenazahnya dimakamkan
di Surabaya.
Sepeninggal Hayati, kehidupan
Zainuddin menjadi sunyi dan kesehatannya tidak terjaga. Hampir setiap hari ia
mengunjungi makam Hayati. Hingga akhimya pengarang terkenal itu turut menyusul
kepergian Hayati. Ia dimakamkan di sisi makam Hayati.
B.
Pembahasan
Novel sejarah ialah sebuah novel yang meletakkan
ceritanya pada masa lampau dan bertujuan untuk menghidupkan keadaan-keadaan
yang wujud pada masa lepas. Banyak novel sejarah memasukkan watak-watak
bersejarah sebagai watak utama atau kecil ke dalamnya. Dalam sebuah novel jenis
apapun pasti mengandung unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik sebagai berikut.
·
UNSUR INTRINSIK
Ø Lahiriah
1. Tokoh
dan penokohan
Tokoh adalah
seseorang yang menjadi pelaku dalam sebuah novel. Sedangkan penokohan merupakan
watak atau karakter dari tokoh yang ada dalam cerita novel.
Berdasarkan jenis watak,
tokoh bisa dibagi menjadi tiga kategori, yakni :
¡ Tokoh Protagonis, tokoh yang menjadi pusat
dalam cerita. Tokoh utama ini digambarkan sebagai sosok yang baik dan biasanya selalu
mendapatkan masalah.
¡ Tokoh Antagonis, tokoh yang menjadi lawan
dari tokoh utama dalam cerita. Tokoh ini digambarkan sebagai sosok yang tidak bersahabat
dan selalu membuat konflik.
¡ Tokoh Tritagonis, tokoh yang menjadi penengah
antara tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh ini digambarkan sebagai sosok yang
netral, kadang bisa berpihak pada protagonis, kadang pada antagonis. Namun ketika
keduanya terlibat dalam konflik, dia menjadi peleraian
2. Alur/
plot
Alur/ plot merupakan
kepingan-kepingan peristiwa yang nantinya akan membentuk jalannya cerita dalam
novel. Umumnya, alur dalam novel dibedakan menjadi 2 macam sebagai berikut.
¨ Alur
maju (progresif) adalah alur yang
peristiwa di dalamnya bergerak secara urut (awal-akhir) dan memiliki jalan cerita
yang rapi. Biasanya alur ini digunakan pada novel biografi dan auto biografi.
¨ Alur
mundur (flashback) merupakan alur yang
peristiwa di dalamnya bergerak secara loncat (awal-akhir-awal-akhir) dan terkadang
tidak rapi. Biasanya alur ini digunakan untuk novel misteri atau novel fantasi.
3. Sudut
pandang
Sudut
pandang merupakan cara pengarang menempatkan dirinya dalam sebuah cerita.
Bisa juga diartikan sebagai cara pandang seorang pengarang dalam menyampaikan
cerita novelnya. Sudut pandang sendiri bisa dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
Ø Sudut pandang orang ketiga – serba
tahu.
Sudut pandang ini menempatkan sang pengarang menjadi
pelaku cerita dan sekaligus penciptanya. Sehingga pengarang bisa memngarahkan,
membuat, mengomentari bahkan berdialog dalam cerita. Bisa dibilang posisi ini
adalah posisi paling bebas sebebas-bebasnya.
Ø Sudut pandang orang ketiga –
sebagai pengamat.
Sudut pandang ini menempatkan sang pengarang hanya
sebagai pengamat cerita saja. Sehingga pengarang hanya akan menyampaikan apa
yang dilihat, dirasakan, didengar dan disimpulkannya dalam cerita saja. Dengan
kata lain, posisi pengarang terbatas meskipun ada dalam cerita.
Ø Sudut pandang orang pertama –
sebagai pelaku utama.
Pengarang dalam sudut pandang ini berperan sebagai tokoh
utama dalam cerita. Sehingga apa yang diceratakannya adalah pengalaman yang
dirasakannya di dalam cerita. Karena orang pertama dan pelaku cerita, kalimat
yang diutarakan kebanyakan dalam bentuk aktif. Di posisi ini, pengarang
melepaskan ekpresinya secara bebas.
Ø Sudut pandang orang pertama –
sebagai pelaku sampingan.
Posisi dari pengarang dalam cerita
ini adalah sebagai pelaku diluar tokoh utama. Tugasnya sebagai pencerita apa
yang dilihatnya dari pelaku utama dan apa tanggapannya pada situasi tersebut.
Sehingga pengarang disini berperan ganda. Namun posisinya sebagai pencerita cenderung
terbatas, karena sebagian besar bercerita tentang tokoh utama.
4. Latar/setting
Latar
/ setting adalah gambaran tentang peristiwa-peristiwa yang ada dalam
cerita. Latar termasuk unsur pembangun cerita yang vital. Keberadaannya sangat
penting untuk membangun suasana dalam cerita. Latar sendiri dibagi menjadi
beberapa macam, yakni:
Ø Waktu,
masa dimana cerita sedang berlangsung. Waktu bisa diterangkan secara garis
besar maupun secara mendetail. Secara garis besar misalnya, musim hujan, tahun
2016, siang hari dan sebagainya. Sedangkan secara mendetail bisa tahun berapa,
di bulan apa, hari apa, tanggal jam, menit detik dan seterusnya.
Ø Tempat,
adalah lokasi dimana cerita sedang berlansung. Sama seperti waktu, tempat juga
bisa digambarkan umum atau khusus. Secara umum misalnya, di restoran, pantai,
gunung dan sebagainya. Khusus, misalnya restoran italia dengan gaya retro
diujung jalan dan seterusnya.
Ø Suasana,
yang dimaksud sebagai suasana adalah kondisi latar secara keseluruhan dan juga
emosi sang tokoh.
5. Gaya
bahasa
Gaya
bahasa termasuk unsur yang penting sebagai faktor pemicu minat baca.
Cerita yang dibuka dengan gaya bahasa menarik, indah dan memikat sangat
diharapkan oleh sebagian besar pembaca. Bahkan bisa dikatakan, gaya bahasa
adalah senjata utama pengarang untuk menghidupkan cerita. Gaya bahasa yang
digunakan pada sebuah novel tergantung
dari latar belakang pendidikan penulis serta tahun saat penulis
menciptakan karyanya.
Ø Batiniah
1. Tema, merupakan
ide atau gagasan utama dari sebuah novel. Tema berisikan gambaran luas tentang
kisah yang akan diangkat sebagai cerita dalam novel. Sehingga sangat penting
untuk memdapatkan tema yang tepat sebelum memulai menulis novel. Sebab tema
yang kuat akan menghasilkan cerita yang tepat dan fokus.
2. Amanat, merupakan
pesan tertentu yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui cerita dalam
novel. Amanat bisa berupa kritik sosial, ajakan, protes, dan lain sebagainya.
Amanat umumnya diibagi menjadi dua:
Ø Tersirat.
Amanat yang pesannya disampaikan secara langsung sehingga bisa dicerna seketika.
Ø Tersurat.
Amanat yang pesannya disampaikan secara tersembunyi sehingga terkadang susah untuk
dicerna seketika itu juga
Ø UNSUR
EKSTRINSIK
1) Latar
Belakang Penulis
Latar belakang penulis dapat
diambil dari riwayat pendidikan hingga aktivitas penulis dalam dunia sastra.
PEMBAHASAN
NOVEL
· Identitas
Buku
Judul :
TenggelamnyaKapal Van DerWijck
Penulis :
HAMKA [Haji Abdul Malik Karim Amrullah]
Penerbit :
BulanBintang
Tahunterbit :
Juli 2002
Cetakan :
26
Halaman :
224
·
Unsur Intrinsik Lahiriah
1. Tokoh
dan penokohan
Tokoh Utama:
·
Zainuddin
·
Hayati
·
Aziz
·
Khadijah
Tokoh Pendukung:
·
Mak Base (Orang
Tua Angkat Zainuddin)
·
Muluk (Sahabat
Zainuddin)
·
Daeng Masiga
·
Mak Tengah Limah
(Mamak dari Hayati)
·
Mamak Datuk
Garang
Penokohan
a. Zainuddin (Tokoh Protagonis)
Seorang pemuda yang
baik hati, alim, sederhana, memiliki ambisi dan cita-cita yang tinggi, pemuda
yang setia, sering putus asa, hidupnya penuh kesengsaraan oleh cinta, tetapi
memiliki percaya diri yang tinggi, mudah rapuh, orang yang keras kepala.
Bukti: “Zainuddin
seorang yang terdidik lemah lembut, didikan ahli seni, ahli sya’ir, yang lebih
suka mengalah untuk kepentingan orang lain”.
b. Hayati
(Tokoh Protagonis)
Perempuan yang baik,
lembut, polos, ramah dan penurut adat. Perempuan yang pendiam, sederhana, dan
memiliki kesetiaan. Perempuan yang menghormati ninik mamaknya, penyayang,
memiliki belas kasihan, orang yang tulus, sabar dan terkesan mudah dipengaruhi.
c. Aziz (Tokoh Antagonis)
Seorang laki-laki yang
pemboros, suka berfoya-foya, tidak setia, suka mengumbar janji, tidak memiliki
tujuan hidup, orang kaya dan berpendidikan, orang yang tidak beriman, tidak
bertanggung jawab dan dalam hidup hanya bersenang-senang senang menganiaya
istrinya dan putus asa.
Bukti: “…..ketika akan
meninggalakan rumah itu masih sempat juga Aziz menikamkan kata-kata yang tajam
ke sudut hati Hayati…..sial”.
e. Khadijah
Perempuan yang
berpendidikan, berwatak keras, senang mempengaruhi orang lain, orang kaya,
penyayang teman, merupakan orang kota, memiliki keinginan yang kuat.
2. Alur/plot
Alur
pada novel ini menggunakan alur campur, karena di dalam novel tersebut banyak
mengulang kisah masa lalu dari kehidupan Zainuddin, seperti contoh pada awal
cerita novel tersebut terdapat bagian cerita tentang perjalanan hidup ayah
Zainuddin dan ibunya yang diceritakan oleh Mak Base. Selain itu juga terdapat cerita dari Muluk tentang karya Zainuddin
yang terakhir kalinya sebelum dia meninggal. Selebihnya menceritakan tentang
masa depan kehidupan Zainuddin dan Hayati.
3. Sudut
pandang
Novel
tersebut menggunakan sudut pandang orang ke tiga serba tahu.
Bukti dengan
menggunakan “dia” dan menggambakan tokoh Zainuddin dan Hayati secara jelas
melalui deskripsi dan cerita yang disampaikan melalui pengamatan dari pembaca.
Terlihat dialog-dilaog yang menceritakan tentang karakter dari para tokoh dalan
novel tersebut.
4. Latar
/ setting
a. Latar
tempat
·
Makassar (tempat Zainuddin dilahirkan)
·
Dusun Batipuh (tempat Hayati tinggal dan
bertemu dengan Zainuddin pertama kali)
·
Padang Panjang (Tempat Zainuddin pindah
dari Batipuh untuk mendalami ilmu, tempat Khadijah tinggal, tempat adanya
pacuan kuda dan Pasar Malam)
·
Arena pacuan kuda (tempat bertemunya
Hayati dan Zainuddin setelah Zainuddin pergi)
·
Jakarta/ Batavia (Tempat Zainuddin dan
temannya Muluk pertama kali pindah ke Jawa)
·
Surabaya (Tempat Zainuddin tinggal dan
menjadi penulis, tempat pindahan kerja Aziz dan Hayati)
·
Lamongan (di rumah sakit, tempat
terakhir kalinya Zainuddin dan Hayati berdialog sebelum meninggal)
b. Latar
waktu
·
Siang
·
Malam
·
“Pagi-pagi hari Senin, 19 hari bulan
Oktober 1936 kapal Van der Wijck yang....”
c. Latar
suasana
·
Mengharukan, saat
-
Hayati menerima cinta Zainuddin ketika
Zainuddin menyatakan lewat surat
-
Zainuddin dan Hayati bertemu di bentang
sawah milik Datuk
·
Menyedihkan, ketika
-
Zainuddin hidup dengan sengsara,
-
permintaan Zainuddin di tolak oleh
keluarga Hayati,
-
ketika Hayati meninggal
5. Gaya
Bahasa
Novel
“Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” tersebut sebagian besar menggunakan bahasa
Melayu karena menceritakan seorang lelaki dan wanita di tanah Padang. Tidak
hanya sekali membaca langsung dapat memahami makna kalimat yang tersaji karena
memang bahsa yang digunakan lebih tinggi daripada novel-novel pada umumnya. Hal
ini tidak lain dan tidak bukan dipengaruhi oleh latar belakang penulis yang
berpendidikan.
·
Unsur ekstrinsik
1.
Latar belakang penulis
Haji
Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA adalah
seorang ulama, sastrawan, sejarawan, dan juga politikus yang sangat terkenal di
Indonesia. Buya HAMKA juga seorang pembelajar yang otodidak dalam bidang ilmu
pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik
Islam maupun Barat. Hamka pernah ditunjuk sebagai menteri agama dan juga aktif
dalam perpolitikan Indonesia. Hamka lahir di desa kampung Molek, Maninjau,
Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada
umur 73 tahun.
Hamka
juga diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang
berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau
seseorang yang dihormati. Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang
dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di
Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906. Beliau dibesarkan dalam
tradisi Minangkabau. Masa kecil HAMKA dipenuhi gejolak batin karena saat itu
terjadi pertentangan yang keras antara kaum adat dan kaum muda tentang
pelaksanaan ajaran Islam. Banyak hal-hal yang tidak dibenarkan dalam Islam,
tapi dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Putra HAMKA bernama
H. Rusydi HAMKA, kader PPP, anggota DPRD DKI Jakarta. Anak Angkat Buya Hamka
adalah Yusuf Hamka, Chinese yang masuk Islam.
Hamka
juga diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang
berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau
seseorang yang dihormati. Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang
dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di
Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906. Beliau dibesarkan dalam
tradisi Minangkabau. Masa kecil HAMKA dipenuhi gejolak batin karena saat itu
terjadi pertentangan yang keras antara kaum adat dan kaum muda tentang
pelaksanaan ajaran Islam. Banyak hal-hal yang tidak dibenarkan dalam Islam,
tapi dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Putra HAMKA bernama
H. Rusydi HAMKA, kader PPP, anggota DPRD DKI Jakarta. Anak Angkat Buya Hamka
adalah Yusuf Hamka, Chinese yang masuk Islam.
2. Riwayat
Pendidikan
Hamka
bersekolah di Sekolah Dasar Maninjau hanya sampai kelas dua. Ketika usia 10
tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ
HAMKA mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti
pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti
Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan
Ki Bagus Hadikusumo.
Sejak muda, Hamka
dikenal sebagai seorang pengelana. Bahkan ayahnya, memberi gelar Si Bujang
Jauh. Pada usia 16 tahun ia merantau ke Jawa untuk menimba ilmu tentang gerakan
Islam modern kepada HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto,
dan KH Fakhrudin. Saat itu, HAMKA mengikuti berbagai diskusi dan training
pergerakan Islam di Abdi Dharmo Pakualaman, Yogyakarta.
3.
Riwayat Karier
Hamka bekerja sebagai
guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan. Pada tahun 1929
di Padang Panjang, Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam,
Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957- 1958.
Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan
Profesor Universitas Mustopo, Jakarta.
Sejak perjanjian
Roem-Royen 1949, ia pindah ke Jakarta dan memulai kariernya sebagai pegawai di
Departemen Agama pada masa KH Abdul Wahid Hasyim. Waktu itu HAMKA sering
memberikan kuliah di berbagai perguruan tinggi Islam di Tanah Air.
Dari tahun 1951 hingga
tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama
Indonesia. Pada 26 Juli 1977 Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali,
melantik HAMKA sebagai Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudian
meletakkan jabatan itu pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh
pemerintah Indonesia.
4.
Aktivitas Sastra
Selain aktif dalam soal
keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan
penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar
seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah.
Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun
1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka
juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan
Gema Islam.
Hamka juga menghasilkan
karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah
terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid). Pada 1950, ia mendapat kesempatan
untuk melawat ke berbagai negara daratan Arab. Sepulang dari lawatan itu, Hamka
menulis beberapa roman. Antara lain Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah
Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Sebelum menyelesaikan roman-roman di
atas, ia telah membuat roman yang lainnya. Seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah,
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, dan Di Dalam Lembah
Kehidupan merupakan roman yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks
sastera di Malaysia dan Singapura. Setelah itu Hamka menulis lagi di majalah
baru Panji Masyarakat yang sempat terkenal karena menerbitkan tulisan Bung
Hatta berjudul Demokrasi Kita.
Ø KAIDAH KEBAHASAAN
Didalam
kebahasaan teks cerita sejarah terdapat ciri-ciri yang sangat menonjol yang
dapat diketahui dan ditandai sebagai berikut :
a. Terdapat adanya unsur kata ganti (pronomina).
b. Terdapat kalimat atau kata-kata yang mengandung dan
menunjukan suatu unsur peristiwa / kejadian (frasa adverbial).
c. Terdapat kata kerja material (verba material).
d. Terdapat kata penghubung (konjungsi) temporal.
Adapun penjelasan dari ke empat
ciri-ciri teks cerita sejarah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
A. Kata ganti (pronomina)
Kata ganti/pronomina adalah jenis
kata yang digunakan untuk menggantikan nomina/frasa nomina dan kemudian
memberikan nama seseorang secara tidak langsung.
·
Kata ganti orang (pronomina persona)
Kata ganti
orang atau disebut juga dengan kata ganti persona adalah suatu jenis kata ganti
yang berfungsi menggantikan nomina. Sehingga dapat disimpulkan bahwa arti kata
ganti orang (persona) adalah kata ganti yg digunakan dan berfungsi untuk
menggantikan posisi nomina.
6 bentuk kata
ganti orang (persona)
Adapun didalam
kata ganti orang (persona) kemudian terbagi lagi menjadi enam bentuk yakni kata
ganti orang pertama tunggal, kata ganti orang pertama jamak, kata ganti orang
kedua tunggal, kata ganti orang kedua jamak, kata ganti orang ketiga tunggal
dan kata ganti orang ketiga jamak. Berikut contoh #6 bentuk kata ganti
(persona) :
1.
Kata ganti orang pertama tunggal
Contohnya yang
ada di dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah "Apa? ... Engkau katakan saya zalim?" kata Datuk
Mantari Labih sambil melompat ke muka, dan menyentak kerisnya, tiba sekali di
hadapan Pandekar Sutan.
2. Kata ganti
orang pertama jamak
Contohnya yang
ada di dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah "Jawablah, kami hendak lekas pergi!" kata Dt....pula.
3.
Kata ganti orang kedua tunggal
Contohnya yang
ada di dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah "Pakaian apa yang kau pakai ini, Hayati? Apakah kau
hendak sebagai "lepat" dibungkus?"
4.
Kata ganti orang kedua jamak
Contohnya yang
ada di dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah
"Wa' den labiah tahu dari kalian
(saya lebih tahu dari kamu semua)."
5.
Kata ganti orang ketiga tunggal
Contohnya yang
ada di dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah "Bagaimana kalau saya temui dia?"
6. Kata ganti
orang ketiga jamak
Contohnya yang
ada di dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah “Dt ..... melengongkan mukanya kepada
orang-orang perempuan yang duduk, menanyai bagaimana pikiran dan penyelidikan mereka
dalam hal ini”.
·
Kata ganti kepemilikan (pronomina
posesiva)
Kata ganti
kepemilikan adalah suatu jenis kata ganti yang digunakan dan berfungsi untuk
menyatakan kepunyaan (kepemilikan). Sehingga dapat disimpulkan bahwa arti kata
ganti kepemilikan adalah kata ganti yang digunakan untuk menyatakan milik,
kepemilikan dan kepunyaan.
Contoh yang ada
di dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah “Kalau tidak, maka terpatrilah persaudaraan yang ke - kal sampai tua
menjunjung uban, sebagaimana pernah dihikayatkan oleh Alexander Dumas dalam bukunya
"Graaf de Monte Cristo," bahwasanya meskipun Edmond Dantes telah
tua, telah menjadi seorang luar biasa yang berpengaruh; meskipun Mercedes telah
bersuamikan Fernand dan telah beroleh anak pula”.
·
Kata ganti penunjuk (pronomina
demonstrativa)
Kata ganti
penunjuk adalah suatu jenis kata ganti yang digunakan dan berfungsi sebagai
penunjuk suatu lokasi, benda ataupun tempat yang letaknya jauh maupun dekat.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa arti kata ganti penunjuk adalah kata ganti
yang digunakan untuk menunjuk sesuatu, baik itu benda, lokasi ataupun tempat
(sebagai penunjuk).
Contoh yang ada
di dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah “Tetapi sejak anak tinggal di sini hatinya bukan main suka citanya,
cuma dia malu kepada engkau sebab engkau orang siak, sedang dia orang Parewa.”
B. Kata keterangan (frasa
adverbial)
Frasa
adverbial/kata keterangan adalah jenis kata yang menunjukan suatu peristiwa,
waktu, kejadian dan tempat. Contoh tadi siang, tahun lalu, minggu
kemarin.
1.
Keterangan cara
Adverbial ini
menambah keterangan cara pada kegiatan atau peristiwa yang terjadi. Contoh yang
ada di dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah “Demikianlah pesan yang disampaikan secara
halus dengan perantaraan Muluk”.
2.
Keterangan alat
Adverbial ini
menjelaskan alat yang digunakan pada sebuah kegiatan atau peristiwa, misalnya
dengan ... ,
menggunakan … , dengan menggunakan …
3.
Keterangan tujuan
Adverbial ini
menambahkan informasi tujuan pada kalimat. Contoh yang ada di dalam Novel
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah “Sekembali
dari stasiun mengantar Aziz, disuruhnya Muluk mencari seorang babu tua untuk
teman Hayati di dalam rumah.”
4.
Keterangan sebab
Adverbial ini menambah keterangan sebab pada kalimat yang
disertainya. Contoh yang ada di dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
adalah "Saya sudi menjadi temannya, karena
saya kenal betul akan dia.”
5.
Keterangan akibat
Adverbial ini
meambah keterangan akibat yang ditimbulkan dari sebuah peristiwa. Contoh yang
ada di dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah “Di
tentang almari itu terletak sebuah gambar besar, tetapi ditutup dengan sutera
hijau, sehingga tak kelihatan siapakah Yang tergambar di sana.”
6.
Keterangan tempat
Adverbial ini
menambahakan keterangan tempat terjadinya suatu peristiwa atau kegiatan. Contoh
yang ada di dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah “Zainuddin sedang termenung di dalam
kamar tulisnya membalik balik surat yang diterimanya itu serta memandang surat
kamar tersebut dengan hati sangat terharu.”
7.
Keterangan waktu
Adverbial ini
menambahkan keterangan waktu kapan terjadinya suatu peristiwa atau kegiatan.
Contoh yang ada di dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah "Ya engku, kemarin saya bertemu
dengan dia di Ekor Lubuk, ketika dia kembali dari Padang Panjang, kehujanan
........"
8.
Keterangan syarat
Adverbial ini
menambahkan keterangan syarat terjadinya suatu peristiwa. Contoh yang ada di
dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah “Meskipun dia dibawa orang bergaul, dia tidak diberi hak duduk di
kepala rumah jika terjadi perasaan beradat-adat.”
C. Kata kerja material (verba
material)
Kata
kerja material/verba material adalah jenis kata yang memiliki fungsi untuk
menunjukan sebuah perbuatan nyata (aktifitas) yang telah dilakukan oleh
partisipan. Adapun didalam kata kerja material ini menunjukan ciri-ciri yang
dapat diketahui seperti perbuatan fisik/kejadian/peristiwa. Contoh yang ada di
dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yaitu :
“Gemetar
tanganku ketika mula-mula menulis surat ini.”
“Sehabis
sembahyang dan makan malam, segera dia naik ke atas anjung ketidurannya, membaca
di dekat sebuah lampu dinding!”
D. Kata sambung waktu (konjungsi
temporal)
Kata sambung waktu (konjungsi
temporal) adalah jenis kata yang berfungsi untuk menata urutan-urutan kejadian
atau peristiwa yang di ceritakan. Dan didalam teks cerita sejarah ini banyak
menggunakan serta memanfaatkan kata penghubung (konjungsi) temporal.
KONJUNGSI INTRA KALIMAT
Konjungsi
intra kalimat atau antar klausa adalah kata yang menghubungkan klausa induk dan
klausa anak. Umumnya, kata penghubung antar klausa ini diletakkan di
tengah-tengah kalimat. Di dalam intra kalimat (antar klausa), terdapat dua
jenis kata penghubung atau konjugsi, yakni konjungsi koordinatif dan konjungsi
subordinatif, Berikut penjelasannya :
1. Konjungsi
Koordinatif
Konjugsi Koordinatif
adalah kata penghubung yang menghubungkan dua klausa atau lebih yang mempunyai
status sederajat. Contoh konjungsi koordinatif yakni :
“Ada
dari pintu sayang, ada dari pintu kasih, ada dari pintu rindu, tetapi yang
paling aman dan kekal, ialah cinta yang melalui
pintu kasihan itu.”
“Sudah lama dia menunggu-nunggu suatu kalimat saja pun
cukuplah, keluar dari mulut Zainuddin, baik tepat atau pun sindiran,
yang dapat dipegangnya,.....”
2. Konjungsi
Subordinatif
Konjugsi Subordinatif adalah kata
penghubung yang menghubungkan dua klausa atau lebih dengan status yang tidak
sama derajatnya, diantaranya :
“.....halaman
luas tempat adinda menlemurkan padi,
ketika dagang melarat ini dapat melihatmu duduk termenung
menggoyang-goyang panggalan
dari talang masak....”
“Kadang-kadang
terniat di hatinya hendak menjadi orang alim, jadi ulama sehingga kembali ke
kampungnya membawa ilmu.”
Jenis
-jenis konjungsi subordinatif ada beberapa, berikut jenis konjungsi
subordinatif dan contohnya.
·
Hubungan waktu
Contoh
: “Tapi Zainuddin tidak hendak kembali sebelum
maksudnya berhasil dia hendak memperdalam penyelidikannya
dari hal ilmu dunia dan akhirat....”
·
Hubungan syarat
Contoh
: “Jika
perempuan itu cantik, maka kecantikannya biarlah diketahui olehnya
seorang.”
·
Hubungan pengandaian
Contoh
:” Sungguh, jika sekiranya
pada masa ini kau bertemu olehku di tengah jalan, dengan tidak memperduhkan kata-kata orang, saya
akan menyimpuh di hadapanmu....”
·
Hubungan tujuan
Contoh
: “Sedangkan kau
sendiri ketika akan ke Medan,
malam tasakan kau cabik supaya lekas siang.”
·
Hubungan konsesif
Contoh
: “Yang lebih
menyolok mata lagi, kalau babu itu agak muda, kerap kali dipermainmainkannya, walaupun di hadapan isterinya.”
·
Hubungan pemiripan
Contoh
: “....permainannya
kurang halus, bukan
seperti tonil Belanda!"
·
Hubungan penyebaban
Contoh
: "Tidak ada lagi nama yang lama, karena
kurang cocok dengan
diri saya. Nama Shabir lebih cocok, bukan?" katanya sambil tersenyum.
·
Hubungan
penjelasan
Contoh : “Dari
sedikit ke sedikit telah nyata bahwa cinta Aziz kepada Hayati, adalah
cinta sebagaimana disebut orang pada waktu sekarang.”
·
Hubungan
cara
Contoh : “Dia akan melalui
takdir itu sampai Tuhan sendiri pula yang membukakannya, yaitu dengan kafan dan
pekuburan.”
KONJUNGSI ANTAR KALIMAT
Konjungsi antar kalimat merupakan kata penghubung yang
menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya. Konjungsi antar
kalimat ini digunakan untuk menyatakan makna yang berbeda-beda. Contoh
konjungsi antar kalimat diantaranya : oleh karena itu, namun, sebelum itu, akan
tetapi, dengan demikian, kecuali itu, selain itu, sesudah itu, sebaliknya.
Konjungsi antar kalimat biasa diletakkan di awal kalimat,
atau setelah tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Berikut adalah contoh
konjungsi antarkalimat :
“Meski
pun setelah perkataan itu keluar dari mulutku kau bukan isteriku lagi, namun
saya masih berani memohonkan kepada kau atas nama seorang yang telah hampir
2 tahun bergaul dengan dikau, yakni jika idahmu sampai, jarganlah kau kembali
ke Padang, tetapi tinggallah dengan Zainuddin, kalau dia masih suka menerima
kau jadi isterinya.”
“Saya
hanya hendak membiarkan air mataku terjatuh di hadapanmu, moga-moga kau dapat
menjamah kepalaku dan memberi saya hidup, meskipun sesudah itu
akan kau bunuh pula.”
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Novel sejarah ialah sebuah novel
(fiksi) yang ceritanya diletakkan pada masa
lampau dan bertujuan untuk menghidupkan keadaan-keadaan yang wujud pada masa
lepas. Banyak novel sejarah memasukkan watak-watak bersejarah sebagai watak
utama atau kecil ke dalamnya.
Berdasarkan hasil
analisis terkait novel sejarah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Haji
Abdul Malik Karim Amrullah dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.
Dalam
suatu novel sejarah, khususnya dalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
terdapat unsur-unsur yang terkandung di dalamnya, diantaranya :
a.
Unsur
Intrinsik (Lahiriah)
Di
dalam unsur intrinsik (lahiriah) berisikan tokoh dan penokohan, sudut pandang, alur/plot, latar/setting, dan gaya bahasa.
b.
Unsur
Intrinsik (Batiniah)
Dalam
unsur intrinsik (batiniah) terdapat tema dan amanat atau sering juga disebut
pesan moral.
c.
Unsur
Ekstrinsik
Untuk
unsur ekstrinsik yang dikaji ialah riwayat hidup si pengarang, latar belakang
si pengarang, pendidikan, pandangan hidup si pengarang dan ideologi yang
dianutnya serta zaman saat karya sastra tersebut diceritakan.
2.
Terdapat
pula unsur religius di dalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck ini yang
mana dalam ceritanya mengandung aqidah, syari’ah dan akhlak yang tergambar
dalam setiap tokoh yang dimainkan. Di samping itu pengarang sendiri sebagai seorang agamawan
yang begitu kental memasukkan unsur–unsur agama ke dalam novel ini.
B.
Saran
Haji Adul Malik
Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan “HAMKA” merupakan seorang tokoh
nasional yang lahir pada 17 Februari 1908 [Kalender Hijriyah: 13 Muharram 1326]
di Tanah Sirah, kini masuk wilayah Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam,
Sumatera Barat. HAMKA memiliki semangat juang yang tinggi dalam menghadapi
kehidupannya di masa itu, yang mana berawal dari terpecahnya keluarganya. Orang
tuanya cerai, walaupun ayahnya memiliki ketaatan dalam beribadah, kerabat dari
pihak ibunya yang masih menjalankan praktek kegiatan yang tidak sesuai dengan
ajaran Islam. Perjuangannya untuk menuntut ilmu pengetahuan pun luar biasa,
beliau ketika di sekolah suka membaca buku-buku yang ada, dalam menuntut ilmu
agama pun tak kalah saingnya. Beliau menjadi santri di Parabek (suatu daerah)
dan hingga beliau dikenal juga sebagai ulama karena kecerdasannya dalam hal
agama. Memiliki sikap pemaaf dan juga lemah lembut dalam bertindak, serta
penentang keras aliran Nasakom pada saat itu yang merupakan ide dari Soekarno.
Dalam kehidupannya
HAMKA selalu mensyukuri apa itu arti kehidupan, beliau sekolah tidak semudah
sekarang ini, bahkan beliau terima untuk merantau yang dikarenakan ketika akan
singgah di rumah ayahnya, disana terdapat ibu tiri, ketika akan singgah di
rumah ibunya, disana pula ada ayah tirinya. Sehingga memutuskan untuk pergi ke
luar daerah, dalam merantaunya bertujuan untuk menambah ilmu dan wawasan untuk
dirinya sendiri sehingga sang ayah menjulukinya “Si Bujang Jauh”.
Hingga pada
akhirnya HAMKA menjadi orang yang sangat terkenal dengan berbagai karya
sastranya yang beliau ciptakan diantaranya Di
Bawah Lindungan Ka’bah dan
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.
Oleh karena itu,
kita sebagai generasi penerus bangsa ini, hal-hal yang patut kita teladani
diantaranya :
1.
Kita
sebagai seorang pelajar diharuskan untuk berjuang sungguh-sungguh dalam
melakukan hal yaitu belajar (mencari ilmu) guna kesuksesan di dunia maupun di
akhirat.
2.
Menjadi
orang yang pemaaf, tidak pendendam. Ketika terdapat suatu perselisihan,
pertentangan, permusuhan, dan perbedaan sebaiknya kita selesaikan dengan cara
baik-baik, melalui musyawarah untuk mufakat.
3.
Kemudian
hal yang paling penting yaitu seperti kata-kata bijaknya beliau. “Supaya engkau
memperoleh sahabat, hendaklah dirimu sendiri sanggup menyempurnakan menjadi
sahabat orang.” HAMKA – ulama dan sastrawan Indonesia.
4.
Hidup
di dunia itu tidaknya kekal, oleh sebab itu kita disamping berjuang untuk
kehidupan dunia, namun harus juga melebihkan perjuangannya untuk kehidupan di
akhirat nantinya.
DAFTAR
PUSTAKA
https://sastra-sekura.blogspot.co.id/2016/03/empat-aspek-keterampilan-berbahasa-dan.html (diakses pada 17
oktober 2017 pukul 11.18 WIB)
http://bio.or.id/biografi-buya-hamka/ (diakses pada 20
Oktober 2017 pukul 22:10 WIB)
https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Malik_Karim_Amrullah (diakses pada 20 Oktober 2017 pukul 21:59 WIB)
https://id.wikipedia.org/wiki/Tenggelamnya_Kapal_Van_der_Wijck (diakses pada 20 Oktober 2017 pukul 22:34 WIB)
https://ms.wikipedia.org/wiki/Novel_sejarah (diakses pada 20 Oktober 2017 pukul 21:03 WIB)

Perfect!!!
BalasHapus